Tahu Bulat Digoreng Dadakan Tak Terdengar, Ketua APTTI Garut Sikapi Kenaikan Harga Kedelai

0
261

HARIANGARUT-NEWS.COM – Pergerakan harga kacang kedelai impor terus menanjak menjelang lebaran Idul Fitri 1439 H. Di sebuah agen kacang kedelai di bilangan pasar Ciawitali Guntur, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, telah menembus harga Rp 8.500/Kg. Padahal sebulan yang lalu harganya berada di kisaran Rp. 6.700. Tentu saja hal ini memberatkan sebagian pengusaha kecil yang biasa menggunakan kacang kedelai sebagai bahan baku produksinya.

H Dedih (56), merupakan satu dari sekian banyak pengusaha tahu yang mengalami dampak kenaikan harga kacang kedelai. Dedi mengaku bahwa menjelang hari lebaran, penjualannya menurun drastis. Sudah dua minggu terakhir warga Kampung Cikamiri, Desa Cintakarya, Kecamatan Samarang itu kesulitan memperoleh kacang kedelai.

“Kalau nggak salah kenaikan harga kedelai impor sudah dua minggu sebelum puasa, harganya lagi melonjak. Harga Rp 6.700 per kilogram, naik menjadi Rp 8.500 sampai Rp 9.000. Saya berharap kepada pemerintah supaya harga kedelai kembali turun. Kalau begini terus, gimana nasib karyawan saya? Mereka juga butuh makan,” harap Dedi yang sehari-hari memproduksi tahu dibantu oleh puluhan karyawannya.

Akibat kenaikan harga kedelai yang sudah berlangsung hampir seminggu ini, pengusaha tahu-tempe kini sepi dari aktivitas produksi. Bahkan sebagian produsen terpaksa menghentikan kegiatan produksi mereka karena terus-menerus mengalami kerugian hingga 60 persen. Selama bulan ramadhan ini tak terdengar suara tukang tahu bulat yang menjajakan dagangannya.

Sementara Ketua APTTI (Asosiasi Produsen Tempe Tahu Indonesia) Kabupaten Garut, Asep Imam Santoso mengatakan, banyak pabrik tahu yang mengurangi produksinya bahkan terancam bangkrut. Adapun, imbuh Asep, harga jual tetap sedangkan produknya diperkecil. Kenaikan harga kedelai yang terjadi memicu berbagai aksi protes dari para produsen tahu dan tempe, pengurangan produksi tahu tempe juga berlangsung di sejumlah daerah di wilayah Kabupaten Garut, ucapnya.

“Meski terus mengalami kerugian, sebagian produsen tahu tempe lainnya memilih untuk tetap melakukan produksi. Namun, untuk menyiasati kenaikan ongkos produksi, mereka terpaksa mengurangi ukuran tahu dan tempe. Namun ada pula produsen yang menaikkan harga tahu tempe hasil produksi mereka,” ujar Asep, Minggu (26/05).

Ketua APTTI Garut berharap kesigapan pemerintah dalam menangani permasalahan kacang kedelai ini. Hal tersebut bertujuan agar para pengusaha produk olahan kacang kedelai tidak terbebani dengan harga kacang kedelai yang sekarang melambung tinggi.

“Mahalnya harga kedelai membuat sejumlah perajin tempe meradang. Harapan ke pemerintah, supaya harga kedelai itu diturunkanlah lebih murah lagi, agar produsen tahu dan tempe dapat kembali mempekerjakan karyawannya,” pungkas Asep. (Igie)

Hosting Unlimited Indonesia

LEAVE A REPLY