Kisah Rodiah, dan Para Pemungut Bulir Padi di Garut

0
539

HARIANGARUT-NEWS.COM – Di sebagian wilayah Garut Utara, para petani sibuk ke sawah untuk memanen padi. Raut mereka ceria melihat hasil yang melimpah, ditambah harga padi padi kering yang lumayan tinggi, yakni Rp 6.700 per kilogram.

Tak kalah dengan pemilik sawah, kegembiraan juga menyelimuti para pengasak, sebutan bagi pemungut bulir-bulir padi yang tercecer di areal sawah. Itulah yang dilakukan Rodiah (42) bersama rekan-rekannya warga Kampung Sukamulya, Desa Sukamulya Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut, Jumat (26/01). Ditengah kesibukan panen, ia menyambangi tumpukan jerami kering yang merupakan sampah di pasca panen.

Rodiah duduk bersimpuh, kemudian mengambil segepok jerami kering, dan memukul-mukulkan bagian tangkai buah padi ke tongkat besi sepanjang dua jengkal. Lantas bergugurlah bulir-bulir padi ke karung plastik yang membentang di bawahnya. Hanya bermodal ketekunan, selama dua hari Rodiah berhasil mengumpulkan 25 kilogram bulir padi sisa panen raya di area Sawah Lega, Kecamatan Pangatikan.

Sejak Subuh Rodiah dan rekan-rekannya sudah ada di antara tumpukan jerami, karena takut didahului oleh pencari pakan ternak.

“Waktu Panen Raya, katanya kemaren ada pak Bupati kesini. Panen udah usai. Apa enggak sayang, jika padi-padi sisa itu tidak dipungut,” ujarnya.

Hasil tersebut, menurut Rodiah sebanding dengan ketelatenannya selama berjam-jam berjemur di bawah terik matahari. Rodiah mulai berangkat dari rumah pukul 05.30 WIB, untuk memulung padi-padi yang terbuang. Ia kembali ke rumah saat jarum jam menunjukan pukul 17.00 WIB.

Untuk mendapatkan gabah yang tersisa, Rodiah berpindah-pindah tempat, dari tumpukan jerami satu ke yang lain. Di hamparan sawah yang sudah di panen, Rodiah bisa mengumpulkan gabah hingga puluhan kilogram lebih selama sehari.

Rodiah bersama rekannya harus berburu sisa-sisa panen hingga ke wilayah lain, seperti ke Desa Mekarhurip Kecamatan Sukawening. Kadang, Rodiah harus berbagi, karena tak hanya dia menjalankan pekerjaan itu. Untuk setumpuk jerami kering, ada lima hingga sepuluh ibu yang mengais gabah.

Namun, itu tidak menjadi masalah bagi Rodiah. Yang menjadi pesaing para pengasak adalah pencari pakan ternak. Sebisa mungkin, mereka tiba lebih dulu di tumpukan jerami baru. Agar, perncari pakan ternak tidak mengangkut jerami-jerami yang belum diasak.

“Mereka ngerti, jika kami sudah duduk, tidak berani ngangkut,” jelasnya.

Rodiah mengaku awalnya merasa iba melihat banyaknya padi yang masih tercecer di areal sawah, sedangkan pemiliknya sudah mengabaikan padi-padi itu.

“Sayang liat gabah terbuang. Inget beras harganya mahal,” cetusnya.

Meski menjadi pengasak, Rodiah sebenarnya punya sawah sendiri. Ia dan keluarganya pun baru selesai memanen sepetak sawah. Hasilnya lumayan, sebanyak empat kwintal padi mereka peroleh, pungkasnya. (Igie)

Hosting Unlimited Indonesia

LEAVE A REPLY