Kabid Jana : Di Garut Tercatat Ada 270 Menderita Thalasemia Mayor

0
249

HARIANGARUT-NEWS.COM – Mungkin sebagian besar masyarakat di Indonesia masih banyak yang belum mengenal tentang penyakit thalasemia, termasuk di Garut. Padahal, di Indonesia, penyakit thalasemia memiliki prevalensi yang cukup tinggi. Bahkan, Indonesia termasuk ke dalam sabuk Thalasemia. Yang dimaksud sabuk Thalasemia, bahwa Thalasemia di temui di seluruh dunia. Negara negara yang termasuk Thalasemia belt adalah Asia tenggara, termasuk Indonesia, timur tengah, Afrika sub Sahara. Dengan kata lain Thalasemia belt adalah negara-negara dengan angka kasus Thalasemia cukup tinggi.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, dr Hj Jana M. Yajariawati mengungkapan, penyakit Thalasemia hingga saat ini belum dapat disembuhkan dan memiliki komplikasi yang banyak. Pasien Thalasemia mayor membutuhkan transfusi seumur hidupnya untuk dapat beraktivitas secara normal. Di Kabupaten Garut tercatat lebih dari 170 menderita thalasemia mayor.
Mneurut Jana, cara untuk mencegah thalasemia adalah dengan melakukan skrining melalui pemeriksaan darah.

“Sebaiknya skrining dilakukan pada usia remaja atau anak sekolah yang sekarang seperti yang sedang dilakukan di Kabupaten Garut,” ujar dr. Jana, di sela-sela acara. Karena dengan cara ini, imbuhnya, penemuan penderita sejak dini akan meningkatkan kualitas hidup penderita Thalassemia.

Untuk itu, lanjut dia, dalam upaya menyosialisasikan serta upaya deteksi dini, Dinas Kesehatan Kabupaten Garut bekerja sama dengan Direktorat Pencegahan dan pengendalian Penyakit tidak Menular Kemenkes RI, selama dua hari (28-29/03) mengundang 120 siswa dari tiga sekolah (SMAN 1, SMAN 6 dan SMKN 3). Kegiatan dipusatkan di Aula SMAN 6 Garut.

Acara ini menghadikran para narasumber, yakni dr. Susi Susianah, dr Sp A (K)., Hematologi, Oncology, RSHS-Bandung dan Kepala Subdit Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak menular Kemenkes RI Jakarta, dr Niken Wastu Palupi MKM MKM. Hadir pula Kepala Bidang Pencegahan dan pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Garut, perwakilan Dinkes Provinsi Jabar Sesnowati SKM, unsur Dinkes Kabupaten Garut, dan Kepala SMAN 6 Garut.

Menurut dr. Susi Susianah, Thalasemia merupakan penyakit kelainan darah merah yang bersifat keturunan dan bukan penyakit menular. Penyakit ini disebabkan karena eritrosit (sel darah merah) mudah pecah dan menyebabkan anemia.

“Bagaimana cara mengetahui bahwa seseorang menderita thalasemia? Diantaranya memiliki riwayat keluarga dengan Thalasemia atau sering tambah darah, atau gejala bervariasi yang paling sering pucat dan lemas akibat anemia,” ungkap dr Susi.

Sementara itu, Kepala Subdit Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak menular Kemenkes RI Jakarta, dr. Niken Wastu Palupi MKM MKM, menyebutkan, terdapat 3 jenis Thalassemia, yaitu Thalasemia Mayor, dimana pasien ini membutuhkan transfusi darah terus menerus seumur hidupnya, setiap 2-4 Minggu sekali. Sedangkan Thalasemia Minor, hidup seperti orang normal, tidak mengalami perubahan fisik.

“Namun, individu ini memiliki risiko mempunyai anak Thalasemia mayor bila menikah dengan sesama Thalasemia minor. Oleh karena itu perlu dilakukan skrining deteksi dini agar seseorang dengan Thalasemia minor dapat diketahui. Disarankan untuk tidak menikah dengan sesama penderita Thalasemia minor,” ujarnya.

Sedangkan jenis yang ketiga, tambah Niken, adalah Thalasemia Intermedia, dimana ia memiliki kadar Hb. yang rendah (berkisar 8-10 gr/dl), sehingga memerlukan transfusi darah, meski tidak rutin. (Igie/Yans)

Hosting Unlimited Indonesia

LEAVE A REPLY