Debat Kandidat yang Digelar KPU Garut, Hanya Berisi Orasi dan Penajaman Janji

0
355

HARIANGARUT-NEWS.COM – Tahapan demi tahapan yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Garut, dalam menyukseskan pelaksanaan Pilkada Serentak 2018 terus berjalan, debat publik pertama Calon Bupati dan Wakil Bupati Garut yang dilaksanakan di Gedung MDL, Copong, Kecamatan Garut Kota, Senin (07/05) sore, dengan tema Akselerasi Pembangunan Kabupaten Garut Tahun 2019-2024 “Sareundeuk Saigel Ngawangun Garut” seperti tidak ada greget.

“Debat kandidat Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Garut dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 yang berlangsung sore tadi dinilai kurang gereget. Debat yang seharusnya menjadi momentum rakyat melihat performa calon dan programnya, hanya berisi orasi penajaman janji. Penyelenggaraan debat publik atau debat terbuka antara pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Garut diharapkan kedepannya lebih berbobot. Materi debat harus lebih spesifik untuk mengangkat beberapa hal persoalan yang berkembang dan yang akan dilakukan,” ujar Tata E Ansorie S Kom, pemerhati politik Garut.

Pemerhati Politik Garut, Tata E Ansorie, S. Kom.

Tata berpendapat, pelaksanaan debat publik yang dilaksanakan oleh KPU hanya sebatas seremonial. Ia juga mengatakan pihak KPU harus merangkul media untuk membantu menyosialisaikan pergelaran pesta rakyat tersebut. Acara debat publik yang pertama ini tak lebih KPU hanya memfasilitasi calon dan tim suksesnya semata untuk bersorak bergantian, ucapnya.

“Visi misi dan program dari seluruh pasangan calon ini kan harus diketahui oleh semua masyarakat. Sehingga, masyarakat pada saat memilih tidak seperti membeli kucing dalam karung. Oleh sebab itu, KPU dan pasangan calon mendorong semua elemen untuk meramaikan Pilkada, seperti menggandeng pers atau media dalam setiap tahapan bukan hanya dalam satu kegiatan saja,” kata Tata usai menyaksikan debat kandidat, Senin (07/05).

Selanjutnya, dia menilai bahwa Pilkada serentak belum terasa semaraknya. Seharusnya yang namanya pesta rakyat, masyarakat yang merasakannya. Debat kandidat yang merupakan rangkaian dalam proses kampanye juga seharusnya tidak hanya sebatas normatif.

“Seharusnya puncaknya saat debat publik, pasangan calon harus habis-habisan mengerahkan segala sumber daya untuk memenangi Pilkada. Suasana hanya ramai oleh masing-masing pendukung, belum lagi audio yang terputus-putus saat pemaparan calon dan tidak ada tambahan waktu. Sepertinya pada debat kandidat yang akan digelar pada 23 Juni nanti harus banyak yang dirubah. Kami dan masyarakat yang menyaksikan berharap kedepannya acara berlangsung menarik,” pungkas Tata. (Igie)

Hosting Unlimited Indonesia

LEAVE A REPLY