Banjir Penghargaan, Namun Karir Staf BPBD Garut Ini Tidak Mulus dan Mendapat Perhatian

0
310

HARIANGARUT-NEWS.COM – Mengabdi hingga belasan tahun menjadi tenaga honorer dalam tugas-tugas kemanusiaan diawali menjadi guru sukwan hingga staf Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Pemprov Jawa Barat dan Pemerintah Kabupaten Garut saat ini, menjadikan Tono Hartono (34) banjir apresiasi dan puluhan penghargaan dalam bentuk piagam baik dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, hingga bupati.

Hampir 17 tahun Tono menjadi honorer dalam tugas-tugas kemanusiaan.

Selain mendapat apresiasi dari kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BPBD Jawa Barat, dan Bupati Garut, Tono juga mendapat puluhan sertifikat keahlian pernah mengikuti berbagai pelatihan seperti
Sertifikat Nasional dari BNPB sebagai Fasilitator Nasional Sekolah Sungai di Yogyakarta 2017, Bimtek Pemanfaatan Sampah Organik, Pelatihan Siaga Bencana Angkatan VII Pemrov Jabar dan lainnya.

Tono menyebutkan, dirinya sudah sejak dahulu aktif dan suka berorganisasi, serta senang menjadi tenaga sukarela dalam penanggulangan bencana. Dirinya mengaku, meskipun hanya menjadi tenaga honorer, penghargaan ini akan dijadikan sebagai lecutan semangat dan motivasi sehingga lebih giat lagi dalam melaksanakan dan membantu tugas-tugas kemanusiaan di setiap bencana yang kerap datang tak terduga.

Bersama petugas BPBD lainnya yang PNS, Tono selalu sigap setiap ada bencana datang melanda.

Tono bercerita, saat tugas menanti, kerap ia meninggalkan keluarga tercinta hingga berminggu-minggu berada di lokasi bencana. Selain terjun pada penanganan banjir bandang, kebakaran gunung Guntur, pada bulan ramadhan Tahun 2017 lalu, hampir selama satu bulan ia berada di Kampung Garung, Desa Panyindangan, Kecamatan Cisompet membantu warga membangun Sasak Rawayan. Ini panggilan moral, panggilan ibadah, karena Kabupaten Garut yang rawan bencana ini butuh relawan yang mau merelakan tenaga, pikiran, dan waktunya untuk menolong orang dalam tugas-tugas kebencanaan, tukasnya.

“Ya, dari dorongan naluri, kemauan sendiri berkiprah di kemanusiaan, apalagi saya sangat suka aktif di organisasi. Alhamdulillah, sangat terharu, bersyukur, dan bangga. Sejak menjadi tenaga honorer dari tahun 2000 hingga sekarang, saya telah melewati berbagai suka dan duka. Selama melaksanakan dharma bakti pada korban dan kejadian bencana, hanya dengan tujuan semata-mata untuk menolong masyarakat. Berbagai sumbangsih pikiran, tenaga, dan kemampuan selalu dicurahkan untuk tugas kemanusiaan,” tutur Tono.

Seringkali berminggu-minggu Tono meninggalkan keluarga demi tugas kemanusiaan yang diembannya.

Pria bertubuh tambun ini juga berharap pemerintah membuat suatu kebijakan yang adil bagi para tenaga honorer yang sudah lama mengabdi, apalagi saat ini sudah banyak juga PNS yang akan pensiun. Tidak dipungkiri, Tono mengaku bertahan hidup menekuni profesinya sebagai honorer dengan harapan kelak ia bisa mengubah nasib menjadi pegawai negeri sipil.

“Harapan saya yakni kesejahteraan, karena saya sudah lama mengabdi. Mudah-mudahan informasinya benar Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Redivasi Birokrasi (PAN-RB), Asman Abnur, berencana mendata kembali jumlah tenaga honorer yang belum diangkat menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Pendataan inikan seiring dengan semakin maraknya keluhan tenaga honorer seperti saya ini yang tidak kunjung diangkat menjadi PNS,” kata dia sambil tersenyum. (Igie)

Hosting Unlimited Indonesia

LEAVE A REPLY