KPUD Garut Sebut Ada 270 Orang Gila Ikut Nyoblos di Pemilu, GMNI Tanyakan Bagaimana Jika Kumat

0
685

HARIANGARUT-NEWS.COM – Sebanyak 270 orang dengan gangguan jiwa di Kabupaten Garut terdaftar sebagai pemilih tetap dalam Pemilu 2019. Pemilih dengan gangguan jiwa yang masuk Daftar Pemilih Tetap (DPT) ini berada pada kategori difabel keterbelakangan mental atau tuna grahita.

“Jadi bukan orang gila yang ada di jalanan, tetapi masyarakat yang mengalami gangguan jiwa dan mempunyai Nomor Induk Kependudukan (NIK) serta terdaftar di Disdukcapil. Itu yang masuk DPT,” ujar Komisioner KPU Garut divisi perencanaan dan data, Dindin A Zaenudin kepada wartawan di kantornya, Jumat (08/02) lalu.

Menurut dia, dalam pelaksanaan pencoblosan pada 17 April 2019 nanti, masyarakat yang mengalami keterbelakangan mental ini harus membawa surat keterangan dari dokter jiwa bahwa yang bersangkutan bisa menyalurkan hak pilihnya.

“Kalau ada surat dari dokter jiwa, dipastikan orang itu dalam keadaan sembuh (normal) sehingga bisa menyalurkan hak pilihannya,” katanya.

Mengenai adanya pendampingan atau tidak saat pencoblosan? Dindin mengaku belum menerima surat edaran dari KPU pusat terkait masalah ini. Tetapi sejauh ini dalam peraturan KPU tidak disebutkan secara detail terkait pemilih dengan gangguan jiwa ini.

“Kalau nanti ada surat edarannya, kami akan menyiapkan (pendamping). Tetapi untuk saat ini belum ada aturan terkait itu,” paparnya.

Didin menerangkan, dalam Pemilu 2019 pemilih dengan kategori disabilitas ini berjumlah 2.609 orang. Dari jumlah tersebut, pihaknya membagi menjadi lima kategori, yakni tuna daksa sebanyak 635 orang, tuna netra 495 orang, tuna rungu dan wicara 534 orang, tuna grahita 270 orang, serta disabilitas lainnya berjumlah 656 orang.

“Untuk orang gila itu masuk dalam katagori tuna grahita yang jumlahnya 270 orang,” katanya.

Dari total pemilih tuna grahita ini, kata dia, tersebar hampir di seluruh kecamatan yang ada di Garut. Tetapi untuk data detailnya pihaknya belum mengetahui secara pasti karena masih proses pendataan lagi.

“Kalau jumlahnya 270, itu hasil plenokan dan sudah dimasukan pada Sidalih (Sistem data pemilih) juga,” terangnya.

Dia menambahkan, saat ini jumlah DPT Kabupaten Garut mencapai 1.895.779 orang, yang terdiri dari laki-laki 963.911 orang dan perempuan 931.868 orang. Jumlah pemilih saat ini mengalami kenaikan dari DPT pada Pilkada Garut 2018 yang berjumlah 1.801.630 orang.

“Kenaikan ini selain adanya pemilih pemula, juga adanya perpindahan penduduk dari wilayah lain ke Garut. Selain itu adanya anggota TNI/Polri yang pensiun, sehingga saat ini masuk DPT,” terangnya.

Usai KPUD Garut mengumumkan bahwa diperbolehkannya orang gila ikut mencoblos dalam Pilpres dan Pileg 2019, mendapat beragam tanggapan dari masyarakat Garut. Salah satunya datang dari Pengurus Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kabupaten Garut, Raden Irfan NP. Setengah berkelakar, Raden mengatakan, dipastikan pada Pemilu nanti akan ada laporan TPS yang diruksak oleh orang yang memiliki gangguan jiwa.

“Kami gak habis pikir ini kepentingan siapa dan untuk siapa, jadi siapa yang waras? Tapi yang pasti, dengan adanya orang gila masuk DPT kemudian menjadi pemilih yang mendapat pendamping atau tidak ini akan menjadi polemik. Bagaimana kalau kumat? Kita tunggu saja kabarnya, tidak menutup kemungkinan ada laporan TPS yang dirusak,” tutup Raden berkelakar, Minggu (10/02). (Igie/YN)

Hosting Unlimited Indonesia

LEAVE A REPLY