Catatan Redaksi : Tentang Iman “Jendral Birokrasi Garut” Alirahman

1
1015

Oleh : Igie N. Rukmana, S. Kom
(Pemimpin Redaksi Harian Garut News)

HARIANGARUT-NEWS.COM – Hadirnya mantan Sekretaris Daerah (Sekda), H Iman Alirahman SH M Si, di bursa Pilkada Garut 2018 memang fenomenal. Bagaimana pun diluar dugaan, sosok birokrat berkaliber itu diujung masa jabatannya harus memilih politik secepat ini.

Tak bisa ditampik, di Pemerintahan Daerah Garut, Iman Alirahman memiliki kecerdasan diatas rata-rata. Pribadi yang supel, kharismatik penuh wibawa, sehingga membawa dirinya menduduki karir tinggi di pemerintah daerah.

Pengabdian 33 tahun sebagai aparatur negara dan menjadi Sekretaris Daerah selama 8 tahun, bukan sekonyong-konyong perjalanan karir yang mulus. Badai dan rintangan yang harus dihadapi tidaklah kecil, ia menahkodai birokrasi dengan penuh liku.

Beberapa posisi di pemerintahan seperti Sopir, Tukang Ketik, Camat, Kabag Humas, Kabag Hukum, Kepala Dinas Pariwisata, Kepala Bawasda, Kepala Bappeda dan terakhir menjabat Sekretaris Daerah, merupakan jenjang karir yang ditempuh penuh kisah episode.

Bagaimana pun harus diakui, ia menjadi jendral aparatur pemerintah, panutan birokrasi. Wajar jika ia menjadi benteng terdepan dalam mengurusi rumah tangga di Pemerintahan Daerah Garut.

Diakhir-akhir masa pensiunnya, sempat dilingkungan Pemda Garut kebingungan, siapa pengganti yang tepat dengan memiliki kemampuan sama, setidaknya memiliki sosok kebapaan yang serupa.

Berbagai peristiwa ia lalui, tantangan demi tantangan menerpa. Mulai dari penempatan posisi Sekda yang dibenturkan dengan sahabat dekatnya Wowo Wibowo, yang sebelumnya dengan Hilman Faridz. Badai pun berlabuh, ia diserang dengan isu aliran, hingga beberapa aksi ditujukkan terhadap dirinya.

Kemarin, Rabu 10 Januari 2018. Iman Alirahman resmi menjadi mempelai Pilkada dari Partai Golkar bersanding dengan Dedi Hasan Bahtiar dari PDI-P. Penghulu KPU Garut mensahkan pasangan mereka siap melaju ke pertempuran Pilkada 2018.

Kebesaran dan kepiawaian Iman Alirahman di birokrasi tentu tidak cukup sebagai modal dalam kancah politik. Karena bagi Iman Alirahman, politik praktis bagaimana pun merupakan hal yang baru. Boleh dikatakan ulung bertarung mengelola pemerintah daerah, tetapi Pilkada langsung adalah hutan belantara, yang bisa jadi dirinya terlantar jika tak ada pemandu politik cerdas.

Kini, ia harus berhadapan langsung dengan rakyat. Meyakinkan bahwa dirinya memang mampu. Tidak lagi seperti di birokrasi berhadapan dengan keterbatasan orang. Puluhan tahun ia bekerja dipandu protokoler, terbatas hubungan dengan publik, dan agenda kerja yang sistemis.

Partai perlu menyediakan pendamping yang komunikatif, supel, mengkloning gaya gestur Iman Alirahman. Membiasakan komunikasi terbuka memang bukan tugas yang ringan, tetapi jika tidak dilakukan, Pilkada yang singkat ini tak akan menjamin hebatnya Iman Alirahman terpancar keluar dan menyebar ke pelosok.

Hosting Unlimited Indonesia

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY